KULIH agroindustri, merupakan pilihan perempuan asli Desa Nguter Kecamatan Pasirian ini. Syarifah Fatimah, adalah segelintir perempuan asal Lumajang yang mengambil kuliah di agroindustri.
Dia menuturkan agroindustri, adalah bagian dari agribisnis. Mencakup persoaln pertanian, perikanan, dan pertenakan. Hanya saja terkonsen dalam bidang industri pengolahannya. "Masih ada didalam agribisnis, hanya lebioh terkonsen kepada manajemennya saja," katanya.
Perempuan yang lahir pada 13 Januari 1997 ini menerangkan, jika perbedaan mendasar lainnya adalah agribisnis memulai proses dari penanaman sampai masa panen. Kalau agroindustri, mengelolah hasil panen.
Bertekad Perbaiki Usaha Warga Usaha
Menurutnya, juga tidak bisa dikatakan sebagai pemberdayaan tanaman pangan. Karena didalamnya ada ilmu manajemen. "Bahkan kalau pemberdayaan tanaman pangan, agroindustri lebih dekat dengan manajemannya," jelasnya.
Denagn begitu, semua ini pertanian dia pelajari untuk mematangkan pengetahuannya tentang agroindustri. Bahkan, datri sektor perikanan, peternakan juga tidak dilepaskannya untuk tidak masuk ke kepala perempuan yang satu ini.
Selain itu, Agroindustri juga tidak banyak berinteraksi langsung ke lapangan. Syarifah mengaku, jurusannya saat ini adalah manajemen pengolahan hasil. "Jadi yang lebih ditekankan adalah bagaimana mengembangkan hasil panen itu," tutur.
Kalu misalnya boleh menyimpulkan, Syarifah mengatakan jika agroindustri yang saat ini dia tekuni ini adalah kantornya untuk mengatur dan mengembangkan hasil panen. Tidak jauh bedanya dengan pengembangan sektor usaha masyarakat.
Anak perempuan pasangan Agus Wahyudi dan Ciplis Setyowati ini, bersihkeras ntuk bisa mengembangkan ilmunya tersebut. Tidak ingin berpikir jauh, Syarifah akan mengembangkan hal itu di desanya tersendiri.
Menurutnya selama ini petani yang ada di desanya sudah mampu memproduksi gabah yang baik dan melimpah. "Kalau dilihat, para petani itu lebih paham dengan merawat tanaman, hanya lemah dalam bidang pengembangan," katanya.
Dengan begitu perempuan yang memiliki hobi memasak ini benar-benar menginginkan untuk bisa mengembangkan pertanian didaerah kelahirannya. Tentru dengan tata cara yang sudah dia dapat hari ini.
Misalkan dia mentebutkan pengembangan yang akan dilakukan meliputi, mengajak masyarakat untuk tidah menjual gabah mereka begitu saja. "Misalkan adakan, pengolahan barang hasil panen yang mereka hasilkan," terangnya.
Menuritnya memang banyak sektor jika membicarakan pengem,bangan usaha dari hasil panen masyarakat. Hanya saja masyarakt yang masih belum sadar, jika hasil panen yang metreka hasilkan mampu menbobrak perekonomian secara melejit.
Hanya saja, butuh waktu lama untuk mendapatkan hal itu. Juga memerlukan modal lebih besar dari yang sebelumnya. Nam,un, jika hal itu bisa dilakukan dengan baik, hasilnya juga akan baik. "Kadang itu masih berpikir dua kali untuk menambah modal," keluhnya.
Padahal jika mereka mampu membaca peluang yang akan terjadi setelah mengeluarkan modal lebih, keberhasilan akan mudah fdiraih. Jadi, bahan baku dari mereka, produksinya juga dari mereka sendiri," tutupnya. (mar/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 10 November 2016
Ditulis Oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar