Jumat, 17 Februari 2017

Jadikan Perpus Tempat Refresing


    BANYAK orang masih sempit memaknai fungsi perpustakaan. Dianggapnya sebagai tempat membaca, ataupun meminjam buku-buku saja. Padahal tidak. Fungsinya bisa juga dijadikan tempat refresing dan bertukar ilmu.

Ingin Kembangkan di Lumajang

    Setidak-tidaknya, hal itulah yang dirasakan Ismi Rahmah Hidayati. Perempuan kelahiran Lumajang, 18 September 1992 ini belakang berkutat dengan perpustakaan.
    Perempuan asal Perumahan Tukum Kecamatan Tekung ini meniti karir pendidikan di SDN Ditotrunan 1 Lumajang, SMPN 3 Lumajang, baru kemudian menyelesaikan SMAN 3 Lumajang tahun 2011. Baru setelah itu melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga Surabaya, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tepatnya di program studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Baru dia lulus 2015 kemarin.
    Setelah lulus itulah, dia langsung cari kerja. Awal nya anak pertama pasangan Sarwono dan Roh Zulaini ini hanya bekerja di proyekan. Tepatnya dalam Perpustakaan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu.
    Namun, dari bekal; itu dia melanjutkan bekerja di perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo. "JAdi gini, saya kan bekerja di perpus sekolah. Saya rasa masih banyak perpustakaan sekolah yang kurang pas," katanya.
    Dia menilai masih banyak yang berpatokan kalau perpustakaan itu hanya tempat membaca buku dan tempat meminjam buku. Dan anak-anak dilarang ramai-ramai di perpustakan.
    Hal itu membuat banyak sekali perpustakaan sekolah yang sepi pengunjung. Sebab siswa merasa kurang nyaman dan kurang sreg. Bahkan lebih memilih ke tempat lain. "Ada yang menilai mending ke kantin dari pada ke perpustakaan.
    Padahal hal itu semacam itu tidak hanya berfungsi seperti itu. "Perpustakaan itu tempat refresing bagi siswa setelah jenuh belajar di kelas. Jadi seharusnya banyak dimanfaatkan untuk refresing juga," katanya.
    Seharusnya, di perpustakaan bisa memberikan bacaan yang ringan untuk mereka. "Selain itu perpus juga seharusnya menjadi tempat bertukar ilmu antara siswa satu dengan lainnya," katanya.
    Semua itu dia dapat dari banyak mencari pengalaman di kota-kota besar. Yang kemudian dia terapkan di tempat kerjanya. Bahkan, dia juga ingin menerapkannya di Lumajang. Tentu disaat dia pulang ke kampung halamannya.
    Namun sayang, dia tidak punya waktu banyak. Waktu pulang kampung pun juga harus menyesuaikan jadwal di tempat kerjanya. "Tergantung jadwal liburan sekolah, kalau
liburan sekolah baru bisa pulang  ke Lumajang," katanya. (fid/ras)




Sumber : Jawa Pos- Radar Semeru  10 Januari 2017
Ditulis kembali oleh : nbl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar