SEKARANG ini sudah banyak zamannya lagi ibu rumah tangga berdiam diri hanya ngurus anak dan rumah. Kebanyakan sudah bergeser mencari tambahan pendapat keluarga melalui usaha sampingan ataupun rumahan. Seperti Emil Nurul Huda ini. Dia sukses mengembangkan budi daya ju\amur tiram.
Mulai Pembuatan Baglog Sampai Olahan Ada
Perempuan asal Dusun Brak, Desa Sarikemuning Kecamatan Senduro ini memng awalnya hanya menggantungkan pendapatan dari suaminya saja. Dia yang hanya lulusan SMK ini kesehariannya mengurus buah hati dan urusan.
Namun, setidak tidaknya dalam dua tahun terakhir dia sudah punya pekerjaan tambahan di rumahnya. Yakni budidaya jamur tiram, "Sejak awal 2014 merintis jamur tira. Mulai pembuatan bibit baglog sampai olahannya sekarang sudah bisa," kata perempuan berkrudung ini.
Awalnya memang usaha itu dibilang kecil-kecilan, namun seiring bejalannya waktu dan banyaknya pembeli diapun sudah menjadikan usaha rumahnya itu sebagaii usaha yang perlu diseriusi.
Sebab banyak pedagang mlijo sampai ibu-ibu tetangganya yang ikut ikutan gandrung dengan budidaya tersebut. semua berlomba-lombamembudidayakan jamur tiram. ada yang olahan ada yang diproduksi budadaya yang sehari hari mencapai kiloan.
Dia menegaskan bahwa pasarnya jamur tiram sampai saat ini sangat bagus. bahkab, prospeknya mlah semakin menjanjuikan. Cocok buat ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga yang tidak ribet dalam merawatnya,
Ibu dari Corlian Gobi Pratama ini tidak merasa ada pesaing ketika ada ibu ibu dari ttangganya yang turut mengembangkanusaha yang sama. Justru dia malah seneng. Sebab, berbagi ilmu menurut dia semakin menambah pahala. kalu pelit ilmu itu semakin maju kalau berbagi dan pakai orang kan bisa bantu orang lain berpenghasilan toh, jelasnya.
Dia mengaku perkilogramnya sekarang harganya masih stabil berkisar antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Namun, harga itu tergantung pada produksi jamur tiramn. Dengan harga itu usah rumahnya itu sudah sukses mensuplai kebutuhan jamur di pasr senduro dan pasar baru Lumajang.
Itupun harganya tidak sembarangan ditentukan. Antara pembneli biasa dengan mlijo masih dibedakan. Khusuu untuk mlinjo dia memang harga Rp 15 ribu perkilogramnya,' soalnya mau dijual lagi katanya.
Biasanya pembeli datang sendiri kerumahnya dia tidak perlu mengantar awal memng dia mengantar namun sekrang ini sudah ada pelanggan setidaknya. Bahkan sampai kurang kurang produksi jamur unuk dipasrkan.
Dalam seharinya usahanya itu sudah bisa memproduksikan sebanyak 15 kilogram tidak banyak memng karena lahan nya ssedikit namun dari jumlah itu sudah bamnyak. minimal ada tanbahan pendapatan keluarganya yang tidak perlu susah susah.
Kalaupun ada sisa di juga tidak kebingungan. Sekarang ini malah kesulitan untuk menyisihkan sisa produksi jamurnya meskipun selalu ada. sisanya itulah yang diolah. "Dibikin olahan dibuat krupuk jamur begitu. Juga laku dan laris kok," tambahnya.
Bagaimanan dengan boglog jamur tiramnya ternyta juga tidak sedikit pasar di Lumajang dan Senduro yang memngambil bibit dari dia. Denagn harga setiap boglog Rp 3 ribu sudah sampai dirumah pemesan sampai saat ini dia mengaku kebanjiran orderan.
Bahkan jika mau memesan meskipun sedikit sudah tentu akan menunggu lama sebab antrean pemesannya tidak sedikit. "Banyak yang antrean jadi harus sabar dan indendulu tidak bisa cepat," pungkasnya.(fid/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 09 Januari 2017
Disalin Oleh (Rs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar