Senin, 06 Februari 2017

Rintis Madrasah Aliya


Berjuang demi pendidikan di desanya benar-benar dilakoni Novita Dian Pratiwi. Saat ini dirinya berjuang untuk melakukan yang terbaik untuk pendidikan di desanya. Novi tengah merintis sebuah sekolah.

Perempuan yang lahis di Lumajang 16 Agustus 1990 ini menunjukkan dedikasinya terhadap pendidikan. Menurutnya, pendidikan itu sangat penting untuk mencipktakan penerus yang memiliki nilai di mata masyarakat.


Ternyata tidak semulus yang dia bayangkan. Mendirikan sebuah lembaga pendidikan itu harus memiliki semangat dan mental yang kuat. "Perlu perjuangan besar, pengorbanan, dan semangat harus terus dibakar," katanya.

Meski lembaga yang dia dirikan belum memenuhi syarat untuk mendapatkan izin operasional, Novi tidaklah khawatir. Semangatnya sebagai seorang pendidik tidak bisa dihentikan lataran mekanisme perizinan.

Berbeda di Desa Pasrujambe, Novi mendirikan sekolah menengah atas yang berbeda di bawah naungan yayasan pondok pesantren. "Sekarang, sudah dilakukan pembelajaran, hanya gurunya yang tidak ada," tuturnya.

Dia menuturkan, hampir setahun silam, dirinya dan beberapa rekannya membentuk sekolah itu. Namun hanya dirinya saja yang sampai saat ini bertahan dan terus berusaha mengembangkan sekolah.

Tidak dipungkirinya, jika perasaan meninggalkan tanggung tanggung jawab sudah ada dalam benaknya. Dorongan dan semangat itu sangat diperlukan. "Kalau saya butuh dorongan dari teman yang lain, karena titik jenuh itu pasti ada," ungkapnya.

Yang menjadi semangatnya kali ini adalah wajah bahagia dari anak yang diajarnya disekolah. Sehingga, rasa jenuh, bosan dan keinginan untuk melepas tanggung jawab hilang dengan seketika.

Perempuan yang lulusan fakultas ilmu keguruan di salah satu kampus terkemuka di Malang ini, menyatakan jika yang ada dalam benaknya saat ini adalah bagaimana mengembangkan sekolah menjadi lebih baik.

Jalan keluar yang dia inginkan dalam permasalahan ini, bagaimana sekolah yang dirintisnya  itu bisa bertahan dan terus menjadi tempat belajar yang mengasyikkan untuk anak didiknya. "Tidak ada kala lain, selain bagaimana sekolah ini tetap bertahan," kata anak perempuan pasangan Poriyem dan Juari ini.

Dia menuturkan, yang paling penting saat ini adalah bagaimana mencari pengajaran yang secara sukarela mau berjuang bersamanya. Sehingga, ada tenaga yang membantunya dalam pengajaran tahun depan.

Apalagi, tahun ini sudah genap dua tahun sekolahnya berdiri. Akan ada dua kelas yang ditanganinya. Sudah pasti, tenaga tambahan itu sangat diperlukan. "Kalau sudah dua kelas nanti masak mau saya ajar sendiri?" tuturnya.

Apalagi dia menuturkan, ada relawan yang mau dan ikut serta aktif dalam mengajar di sekolah ini. Karena, semua akan berhasil jika ada kekompakan dalam sebuah tim. "Kekompakan adalah kuncinya kan," tutpnya. (mar/ras)


Sumber : Jawa Pos Radar Semeru, 16 November 2016
ditulisoleh:(er)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar