KASIH ibu tsk terhingga sepanjang masa, Barangkali itulah yang masih melekat di benak semua orang. Susah meninggalkan ibu, bahkan, tidak bisa hidup jauh-jauh darinya. Meski sudah besar sekalipun kebiasaan itu masih dialami.
Sering Dibilang Anak Mama
Itulah yang dirasakan Mega Dwi Wiyanti. Perempuan kelahiran Lumajang25 Juni 1995 ini berasal dari Desa. Tepatnyha dui Dusun Penggung Lor Desa Sidorejo Kecamatan Rowokangkung.Perempuan berkerudung ini adalah anak kedua dari dua bersaudara pasangan Darmaji dan Wiwik endang S. Kedua orang tuanya hidup biasa. Berpendapatan dari wiraswata budi daya ikan.
Setelah mengeyam pendidikan terkhir di SMKN Tekung. adik dari Anik Firidiani ini memang langsung banyak tawaran pekerjaan. "Banyak tawaran kerjanya. Sampai diluar pulau juga," kata lulusan 2014 ini. Itu karena penampilannya menarik dan cara berkomunikasinya bagus.
Dari sekian tawaran yang yang datang, satu yang dipilih. Yakni bekerja disalah satu pabrik yang ada disurabaya."Pertama kerja di pabrik surabaya. Itu yang saya pilih untuk nambah pengalaman. Ternyta tidak kerasan," katanya.
Dari sekian tawaran yang datang, satu yang dia pilih. Yakni bekerja bekerja di salah satu pabrik yang ada disurabaya. Itu yang saya pilih untuk nambah pengalaman. Ternyta tidak kerasan," katanya.
Pengalaman pertama itupun mencoba diselemurkan dengan mendatangi tawaran pekerjaan di luar pulau tepatnya di kalimantan. Barangkali dia berpikir kalau jauh sekalian pasti akan dipaksa kerasan. Ternyta tidak.
Bahkan, dia justru merepotkan keluarganya. Ga kerasan juga ternyta. ya pulang. terus 7 bulan kemudian kangen ya pulang," katanya. Sampai akhikrnya, diapun kesulitan cara bagaimana cara agar bisa bekerja dalam keadaan jauh dari keluarga.
Sampai akhirnya. Mega sapaan akrabnya memilih untuk bekerja di Lumjang. Ya disini," ucap perempuan yang sejak enam bulan lalu menjadi resepsionis di kantor wakilk rakyat Lumajang ini.
Akhirnya diapun mengakui susahnya meninggalkan kampung halaman. "Di Surabaya gak krasan, di kalimantan apalagi. ternyta saya itu gak bisa jauh dari kampung halaman," kampung halaman membuat kehidupannya hialang.
Dan terpenting lagi menurut dia adalah tidak bisa hidup dalam kondisi yang jauh dari orang tua. Terutama Ibu. "Susah jauh dari mama. Makanya sering saya dibing mak ma en," Paparnya lalu tergelak tawa.
Dia mengakui jika selama ini terlalu sayang pada mamanya. Sayang juga sama ayah dan kaknya. Setiap kerja di tempat yang agak jauh sedikit, selalu ingin mereka. makanya dia memilih bekerja di tempat yang dekat dan setiap hari bisa pulang ke rumah.
Dampak dari kemanhjaannya itu ternyta cukup banyak. Alumni SMPN Yosowilangun ini mengakui juga takut kalau disuruh minum obat diwaktu sakit. Sampai sekarang, kalau ketemu obat pasti ketakutan. "kayak ketemu setan. Karena tidak bisa nelan obat apapun termasuk kapsul kalau begitu ngomel-ngomel sudah orang tua," jelasnya apalagi dengan sejenis jarum suntik. Dipastikan dia langsung kabur.
sisi lain yang unik dal;am diri Mega adalah nama panggilan nya. "Panggilanku banyak banget," ujarnya. Ada yang memanggil Megol, Magemek, ada juga yang manggil Miga dan Megamen. Memang bikn sebel. tapi akhirnya dengan sebutan nama panggilan itu, dia bisa mendeteksi teman tersebut dari mana dan temen sewaktu sekolah atau bekerja.(fid/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 25 Januarai 2017
Disalain Kembali Oleh.(Rs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar