PEREMPUAN ini sudah hampir sembilan tahun mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan. Tepatnya pada 2009 lalu, Nindri Susantri mengabdikan dirinya untuk mengajar.
Orang Tua Bisa Ajarkan Ulang di Rumah
Kaluitu, keputusannya menjadi seorang guru merupakan pilihan dalam hidupnya. Sehingga, profesinya sebagai seorang guru usia dini dijalaninya dengan penuh suka cita. "Ini memang pilihan saya," katanya.Dia mengakui, alasan untuk memilih menjadi seorang guru itu merupakan permintaan ayahnya. Sayangnya, tepat 40 hari ayah Indri wafat, baru dirinya di angkat untuk mengabdikan diri pada sekolah yang berada di bawah naungan pesantren itu.
Sehingga dia beranggapan jika hal itu merupakan kado yuang disembahkan langsung kepada ayahnya. "Ayah yang sangat menginginkan saya untuk menjadi seorang guru, Sayangnya tidak sempat melihat anaknya menjadi seperti yang dia inginkan," tuturnya.
Perempuan yang lahir pada 1 Februari 1989 ini, terus menekuni dunianya sebagai seorang guru. Ternyata di balik itu Tuhan memberikan obat untuk Indri. Anak didiknya memberikan sesuatau yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Menurutnya, saat bertemu dengan anak didiknya masalah yang menghampiri bisa terlupakan. Meski hanay sejenak, tapi hal itu sangat berharga untuk dirinya. "Bisa melupakan sejenak segala macam kesusahan yang dimiliki," ujarnya.
Sehingga profesi itu sampai saat ini dia jalani. Sehingga di tahun 2012 lalu, Indri diangkat untuk menjadi pengurus di salah satu organisasi guru Paud yang berkapasitas di Kecamatan Kedungjajang.
Jabatannya pun tidak tanggung-tanggung, Indri menjabat sekretaris umumdalam organisasi yang menaugi pendidikan anak usia dini itu. "Mulai dari tahun 2012 sampai sekarang saya di sekretaris Himpaudi," akunya.
Dedikasinya terhadap dunia pendidikan terus membawa nama Indri melejit. Ditahun berikutnya, dia diangkat menjadi kepala sekolah di tempat dia mengabdi. Tentu sebuah pengalaman baru bagi Indri.
Yang biasanya hanya mengajar dan memberikan informasi terhadap anak didik, kali ini sistem pengajaran dan managemen sekolah ada di tangannya. "Sempat bingung, apa yang mau dilakukan," ungkapnya.
Namun Indri merasa jika hal itu merupakan amanah yang harus di embankan. Amanah itu merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Sehingga, Indri merasakan jika hal itu sebuah pembelajaran bagi dirinya.
Belajar untuk lebih dewasa dan belajar untuk lebih memperhatikan apa yang dilakukannya. Sepertihalnya, tingkah laku dan sopan. "Berat sebenarnya, tapi semua itu saya anggap sebagai pembelajaran," katanya.
Dia mengakui semenjak menjadi guru usia dini, banyak pelajaran yang dia ambil. Utamanya menemukan keluarga baru. Baik dengan guru, siswa maupun orang tua biasanya ikut mendampingi anaknya bersekolah.
Sehingga pembelajaran itu juga bisa dilakukan tidak hanya kepada anak. Posisi orang tua yang ikut mendampingi juga harus paham soal pelajaran yangg anak pelajari. "Sehingga, jika siswa tidak bisa paham disekolah, orang tua bisa mengajarkan ulang dirumah," tutpnya. (mar/ras)
Sumber : jawa Pos Radar Semeru, 27 Januari 2017
Disalin Kembali Oleh :(Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar