Selasa, 21 Februari 2017
Cinta Madrasah
MENJADI seorang guru sudah menjadi cita-cita Alfin Miftakhul Khoir, perempuan yang kini menempuh kuliah di salah satu perguruantinggi di Jember. Dia sedang berusaha mewujudkan cita-citanya dengan mengambil studi jurusan pendidikan guru madrasah ibtidaiyah.
Menjadi seorang guru madrasah, diakui Fifin pnggilan akrabnya, sudah menjadi impiannya sejak kecil. Wajar saja,karena masa kecilnya dihabiskan dengan belajar di madrasah ibtidaiyah.
Perempuan uang juga hobi travelling ini menilai, menjadi seorang guru madrasah ibatidaiyah adalah pekerjaan yang menyenangkan. Disamping bisa mendidik, guru ibtidaiyah juga tidak jauh dari pengabdian. "Guru madrasah itu keren," katanya.
Tidak hanya itu saja, konsentrasi ilmu agama, akan didapatkan oleh setiap siswa yang bersekolah di madrasah ibtidaiyah. Karena, siswa tidak hanya diajarkan agar secara umum, melainkan lebih terperinci dengan beberapa mata pelajaran.
Fifi mencontohkan, misalkan pelajaran akidah akhlaq. Dalam mata pelajaran itu sangat jelas diajarkan kepada siswa begaimana cara menghormati guru, orang yang lebih tua dan terhadap sesamanya.
Dengan begitu, siswa tidak hanya diberikan pengajaran tatacara salat dan menghafal doa-doa saja. Melainkan juga diajarkanbeberapa ilmu agama. "Lebih spesifik kan? Tidak secara umum mempelajari agama," tuturnya.
Perempuan yang beralamat di Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh ini, pernah mengimpikan menjadi seorang psikolg. Hanya saja, keinginan itu gagal terwujud lataran orang tuanya lebih menginginkan dirinya menjadi guru ibtidaiyah.
Sehingga, alasan itu pula mengapa Fifin memilih kuliah dijurusan yang terkonsentrasi dengan madrasah ibtidaiyah. "Sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan, tapi mau gimana lagi," tutur anak perempuan pasangan Rofiq dan Ludiyani tersebut.
Keinginan menjadi seorang psikolog itu diinginkannya agar lebih mudah memahami orang lain. Meski keinginan itu masih ada dalam dirinya, saat ini Fifin lebih memilih untuk menjadi guru madrasah ibtidaiyah.
"Biar tidak apa-apa konsentrasi di guru ibtidaiyah saja, kalau psikolog kan bisa dicari dimana-mana," ungkap perempuan yang lahir di Lumajang 11 Oktober 1996 ini. Membaca buku tentang psikolog akan dijadikan jalan keluar agar keinginannya tetap bisa dipelajari.
Sehingga, meski terkonsentrasi menjadi guru ibtidaiyah, keingin tahuannya tentang psikolog dan cara memahami orang lain terus dilakukan. "Bisa dengan membaca buku dan diskusi," tutupnya. (mar/ras)
Sumber : Jawa Pos Radar Semeru, 18 Januari 2017
disalin oleh : (er)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar