Senin, 13 Februari 2017
Nyasar Jadi Guru PAUD
Susah seneng menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) campur jadi satu. Tetapi, bagi yang suka bergaul dengan anak-anak, apapun kondisinya dirasa menyenangkan. Apalagi jika sudah kecanduan menggunakan pembelajaran visual. Hari-harinya selalu happy dengan pola itu.
Dia mengaku pengalamannya menjadi seorang pemimpin dirasakannya sejak berada di nPondok Pesantren Syarifudin (PPS) Syarifudidin. Itu merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang pemimpin. Sedikit kagok saat itu. Namun lambat laun mulai terbiasa dengan amanah yang dia emban.
Anis panggilan akrabnya, sebelum nyantri di pondok pesantren, sebelumnya pernah nyanrti di salah satu pesantren yang di Desa Pandanwangi Kecamatan Tempeh. Saat itu Anis tidak pernah diberi amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Dia hanya dipasrahi untuk menjadi seorang pengurus saja. "Jadi di sinilah pengalaman pertama saya menjadi seorang pemimpin," akunya.
Perempuan yang menjadi ketua pondok dalem barat (Al-Yumna) ini, menilai pandangan masyarakat yentang seorang pemimpin itu adalah orang yang sangat hebat. Harus bangga dengan jabatannya.
Namun, semua itu dirasakan berbeda dari Anis. Menurutnya menjadi pemimpin itu adalah sebuah keharusan dalam mengayomi. Bahkan menjadi pemimpin itu merupakan sosok yang harus menjadi cermin.
Cermin bagi pengurus yang lain dan cermin bagi anggota yang berada di bawah tanggung jawabnya. "Pemimpin itu menjadi cerminan bagi anggotanya, dan seorang pemimpin itu harus bertanggung jawab atas amanah yang telah dipercayakan," jelas mahasiswa semester 3 IAI Syarifuddin ini.
Sebuah amanah besar dipikulnya. Apalagi ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang pemimpin. Belajar menyesuaikan sifat dan perilaku dalam mengemban jabatan yang diserahkan langsung oleh pengasuh pondok pesantren.
Oleh karena itu, dia mengtakan terus berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani tugas sebagai seorang pemimpin. Apalagi, hal yang dilakukannya saat ini akan menjadi contoh bagi santri lain. Yang tidak lain di antara mereka yang akan menggantikannya sebagai seorang pemimpin pondok.
Anis lahir di Lumajang 29 Januari 1997 ini mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari setiap proses yang dijalaninya saat ini. Dari yang awalnya menjadi seorang yang demam panggung,k menjadi orang yang percaya diri.
Tidak hanya itu saja. Anis merupakan orang yang tertutup dan kurangn peduli terhadap sesama. Tapi dengan tanggung jawabnya, Anis berubah menjadi orang yang lebih peduli terhadap sesama dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Dari pengalaman itu dia juga belajar untuk menjalankan manajemen yang baik. Mengatur ritme kegiatan dari kepengurusan dan santri yang berada di bawah ayomannya. "Bisa bertanggung jawab atas amanah ini," kata perempuan asli Desa Selok Anyar Kecamatan Pasirian ini.
Dengan begitu,Anis menyimpulkan, seseorang itu bisa berubah dengan adanya sebuah tanggung jawab yang dipercayakan. Sehingga, mau tidak mau seseorang itu harus menjadi manusia yang lebih baik agar tanggung jawabnya bi8sa terselesaikan.
Dia menuturkan, tidak hanya itu saja dengan adanya pengalaman seseorang bisa menambah pengetahuan dan pelajaranh yang bisa dipetik untuk mengevaluasi ke depannya. "Pengalaman itu yang akan menjadikan manusia lebih baiik lagi," tutupnya. (mar/ras)
Sumber :Jawa Pos Radar Semeru, 04 Januari 2017
ditulis kembali moleh : (er)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar