LAHIR sebagai perempuan itu tidak memiliki peluang untuk tampil pada aktivitas yang notabene digeluti laki-laki. Alifia Shafira Yusni salah satunya. Meski perempuan, dia memiliki menjadi atlet dayung. Dia tetap eksis meskipun satu tim perempuan sendiri.
Obsesinya Jadi Pedayung Tunggal
Berlatar belakang sebagai mahasiswi jurusan kecantikan, Alifia Shafira Yusni adalah salah satu perempuan yang menekuni bidang olahraga dayung. Sehabis pulang kuliahnya, dia tak segan-segan lagi, memanfaatkan waktunya untuk berlatih.Perempuan yang lahir di Merauke pada 20 Jubi 1998 dan Tinggal di Lumajang sejak lulus SD ini, benar-benar serius dalam cabang olahraga dayung. Terbukti, dia katakan jika kelak bakal menjadi atlet dayung profesional. "Siapa tahu, nanti jadi atlet dayung profesional," katanya.
Padahal, Alifia panggilan akrabnya, merupakan salah satu mahasiswa kecantikan di salah satu universitas di Surabaya. Dia kepincut ketika pertama kali dia terjun dalam dunia dayung yang juga dipengaruhi awal kali dia masuk dalam kampus tersebut.
Saat itu, dia mengatakan ada sebuah pameran yang menampilkan segala bentuk kegiatan Unik Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Kampusnya. Bukan malah memilih kegiatan yang perempuan banget. Alifia malah memilih dayung sebagai kegiatannya di kampus.
"Waktu itu sebenarnya binging mau pilih yang mana, kemudian pas masuk di stand UKM dayung, langsung tertarik dengan tantangannya," tuturnya. Seketika itu pula, dia mendaftarkan diri untuk ikut dan bergabung dalam kegiatan kemahasiswaaan itu.
Sebenarnya dia mengatakan agak malu saat pertama kali ikut dalam kegiatan UKM dayung tersebut. Mengapa tidak, Alifira merupakan salah satunya perempuan yang tergabung didalamnya.
Rasa canggung dan tidak enak hati, sering kali menghampirinya. Namun, tekadnya untuk menjadi atlet tersebut tidak pupus hanya karena itu. Justru dia merasa tertantang dengan kondisi tersebut. "Ngerasa tertantang, karena semua disitu cowok," akunya.
Memang sulit untuk menghadapi itu, namun Alifia tidak berkecil hati. Satu persatu dia ajak untuk berkomunikasi. Meski sedikit gugup, namun saat dia sudah berhasil masik tim inti. Meski dalam tim itu dia perempuan seorang diri.
Semua itu adalah usaha yang dilakukan untuk bisa menjadi atlet dayung. "Apalagi nanti sampai bisa masuk PON," ucapnya. Latihan keras dan menjaga komunikasi dengan senior adalah cara ampuh yang dilakukan Alifia.
Selain itun ikut dalam event kejuaraan dayung juga harus diikuti. Hal itu merupakan salah satu cara untuk mengukur kemampuan diri. "Sejauh mana latihan yang selama ini dilakukan, kata anak pasangan Yuswono dan Nihaya ini.
Alifia saat ini, masih tergabung dalam tim pendayung grup. Dia menurutkan, dalam dayung tersebut ada yang grup dan ada yang individu. Ada kesulitan dan kelebuhan masing-masing dalam setiap pilihan.
Dalam tim dayung yang beregu, dia menjelaskan yang sulit adalah mengompakkan setiap orang yang ada di grup tersebut. Hubungan batin antara anggota harus nyatu. "Jadi terjalinnya itu tidak hanya diperahu, pergaulan juga harus sering denagn sesama tim," jelasnya.
Kalau tidak begitu, sudah tidak tentu ada kekompakan yang terjain antar individu dari tim tersebut. Jadi harus lebih banyak berkomunikasi saja, agar menjadi satu tim yang utuh untuk menuju kemenangan.
Namun, kalau misalkan boleh memilih, sebenarnya Alifia lebih cenderung menjadi atlet dayung individu. Mendayung seorang diri, merupakan target yang ingin ia capai. "Sekarang masih proses untuk menuju kesana, semoga saja kuat dengan prosesnya," katanya.
Mendayung seorang diri itu memerlukan fisik yang kuat. Apalagi saat melakukan perlombaan laju perahu berlawanan dengan arus air. Dengan begitu, perlu fisik yang kuat agar perahu melaju kencang dipermukaan air.
Dengan begitu, latihan fisik ritin selalu dilakukannya. Tidak hanya kekuatan tangan, kekuatan pinggang dan kaki juga menjadi penentu. "Setiap hari latihan fisik,, agar memiliki tenag yang kuat saat mendayung," tutupnya. (mar/fid)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 28 November 2016
Disalin Kembali Oleh: (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar