Senin, 27 Februari 2017

Dulu Ditolak, Kini Dicari



MEMBUKA usaha tidak bisa dengan sim salabim. tidak seinstan layaknya membalikkan telapak tangan. Apalagi home industry. Penuh lika-liku, cucuran keringat, dan juga korban perasaan. Dulu ditolak-tolak oleh pelanggan sampai sumpah serapah tidak mau, sekarang malah cari-cari.

Begitulah gambaran usaha roti dan kue yang ditekuni Rina Maydiana dan keluarganya. Perempuan kelahiran 31 Mei 1989 ini mengaku jerih payahnya selama ini sudah membuahkan hasil. Dia merasakan betul merintis usaha dari nol. Sekarang, sukses dengan omset ratusan juta.


Yang Sumpah Serapah Ternyata Pesen Lagi


Perempuan asal Jalan Pinang Kelurahan Citrodiwangsa ini mengawali karinya sebenarnya bukan disitu. Alumni Brawijaya jurusan ilmu admistrasi ini malah meniti karir sebagai karyawan bank. "Tapi sejak 2013 saya resign milih fokus usaha bantuin suami jualan roti dan kue," kata istri Ahmad Muhajir ini.

Sejak itulah, dia mulai menggeluti usaha home industry kue roti. Diawal-awal merintis usaha itu, dia merasakan betul pahit getirnya. Dari tidak punya banyak peralatan, cuma bisa nganduk adonan roti, bikin roti dan pelanggannya tidak ada.

Pola pemasarannyapun masih tradisional sekali. "Dititipkan ke toko-toko. Habis itu banyak yang suka, tapi banyak juga yang nolak," ujar ibunda Ukasyah ini. Itu terjadi di tempat lama yang berada di Kawasan Gandingsari.

Diawal merintis itu dia merasakan kue buatannya tidak diterima atau ditolak. Sehingga dia memilih pindah di kawasan Jalan pisang yang sekarang ditempati. Ditolak bukan karena sudah dicoba makanannya. Tetapi belum dicoba saja. Kemudian berpindah sekaligus untuk mengembangkan home industry-nya

Disaat pindah itulah, ternyata banyak yang mencari rotu dan kue buatannya. Sebab yang dititipkan di toko sudah tidak ada lagi. Mereka yang awalnya menolak itu tadi akhirnya banyak yang berhasil menemukan tempat barunya. "Banyak peminat yang dulu nolak-nolak lalu nyari. Karena tidak titip lagi ditoko. Banyak jalan onlinenya,"jelasnya.

Sejak itulah usahanya terus berkembang. Kue dan roti yang bikin juga bukan hasil stok. Melainkan orderan dari pemesan. "Sekarang malah by order semua. Meski pesan satu dan dua dibikinkan yang penting enggakdadakan," ungkapnya.

Terutama kue tart. Sebab, kue tart karyanya itu beragam jenis dan model. Jadi banyak yang memesan ke dia. Dan semuanya dipesan jauh-jauh hari. Memang usrusan kue tart dia mengakui banyak pemesan yang bawel. "Ada yang bawel banget, minta gini-gitu dan lainnya. Setelah dibikinkan gak cocok padahal modelnya dia sendiri yang pilih," ungkapnya

Tak cukup disitu saja ternyata. Kemarahan salah satu pelanggan itu diungkapkan pada status jejaringan sosialnya tidak akan pesan pada Rina. "Sampai update status sumpah-sumpah gak pesen, ternyata tahun berikutnya pesen lagi, yaelah," ungkapnya.

Sekarang usahanya sudah maju. Kue tart-nya beragam bentuk dan karakter. semua model dan keinginan pemesan bisa diapenuhi. Kebanyakan pemesan membawa gambar untuk dibuatkan kue. Pelanggannya pun bukan cuma dari Lumajang kota saja. Dari Psirian, Yonosialngun, Tempeh dan tempat lainnya juga berdatangan.

Osetnya juga tidak sedikit. Target sebulan Rp 70 juta selalu berlebihan. Bahkan, kalau musim pernikahan omset bisa tembus Rp 100 juta. Usaha yang dirintis bersama suaminya itupun kini sudah bisa memperkerjakan sedikit delapan karyawan. "Sekarang enak begini dekat anak, bisa bantu suami. Dari pada jadi karyawan kayak dulu," katanya. (fid/ras)


Sumber : Jawa Pos Radar Semeru 30 Januari 2017
Ditulis Kembali Oleh : (IS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar