Kamis, 02 Februari 2017
Tertarik Dengan Pergerakan
KATA 'Pergerakan" dalam nama organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ternyata memiliki kesan tersendiri bagi Dhiasti Eka Wulandari. Perempuan yang memiliki untuk aktif di organisasi itu, cenderung memilih bergerak dari pada berdiam diri.
Menurutnya, arti dari kata pergerakan tersebut adalah tidak henti-hentinya melakukan gerakan untuk menuju perubahan yang lebih baik."Jelas seperti itu, semua anggota didoktrin untuk bisa melakukan hal positif," katanya.
Hal positif yang Dhias maksud adalah melakukan sebuah pekerjaan yang memiliki manfaat bagi orang lain. Jika itu kesulitan, dia menambahkan, minimal hal yang dilakukan itu, bermanfaat untuk dirinya sendiri.
Juga Punya Komunitas Kepemudaan
Dengan begitu, setiap orang yang melakukan itu dengan benar, secara perlahan mereka akan berubah dan menjadi lebih baik. "Pergerakan itu, tidak hanya berbuat dan beraksi, tapi juga memikirkan kebaikan untuk sesama," jelasnya.
Perempuan yang memilih aktif di organisasi PMII ini, mengatakan memang banyak organisasi kemahasiswaan di Lumajang. Namun, hanya PMII yang mampu menarik perhatiannya. Sehingga, sejak awal Dhias sudah dikenal dengan keaktifannya di oragnisasi.
Selain itu, dia mengatakan selain tertarik dengan kata pergerakan, Dhias juga melihat dari segi sejarah berdirinya organisasi tersebut. "PMII kan lahir dari rahim NU" katanya. Maklum saja, keluarganya begitu fanatik dengan organisasi Islam tersebut.
"Dan selama ini, sejarah mencatat bahwa NU adalah bagian dari kemerdekaan Indonesia," tambahnya. Komplit sudah, keluarganya fanatik NU anaknya aktif di organisasi yang lahir dari NU.
Namun, diantara semua itu yang paling penting menurut DHias adalah paradigma pemikiran yang PMII bangun. Yaitu, kristis transformatif. Sederhananya, anggota dianjurkan untuk kritis dan melakukan kritik dan membangun.
Perempuan yang lahir di Lumajang, 30 Desember 1997 ini, menyukai organisasi karena banyak ilmu yang dia dapat. Pengalaman berharga, dan banyaknya teman menjadi pengharum masa-masa kuliahnya.
Selain aktif di organisasi, ternyata anak perempuan dari Sayadi Efendi dan Suliha ini, juga memiliki komunitas yang berlingkup di Kabupaten Lumajang. "Saya juga punya komunitas yang didalamnya banyak anak-anak PMII" katanya.
Tugas dari komunitas tersebut dikatakannya, mengajak anak-anak yang putus sekolah dan pemuda yang tidak kuliah untuk ikut andil membangub Lumajang lebih baik. Mereka diajarkan untuk bisa mandiri dan berwirausaha.
Perempuan yang memiliki hobi travelling ini, cukup sering membuat sebuah kegiatan untuk memupuk pemuda agar lebih produktif. "Adakah pelatihan saja, seperti enrepreneur dan memfasilitasi bakat dan minat mereka," tutupnya. (mar)
Sumber; Jawa Pos, Radar Semeru 4 November 2016
disalin oleh: Is
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar