Selasa, 07 Februari 2017
Modal Ngutang Sejuta
MERITINTIS usaha ini tidak mudah. Pontang-panting, kerja keras dan tak jarang juga melewati sedikit keluh-kesah. Namun, setelah melewati tahapan itu, manisnya bisa dirasakan. dari modal sejuta dan semangat tinggi, usaha itu sudah berbuah kesuksesan.
Bisa Membuka Pekerjaan Baru Buat Saudara Sendiri
Begitulah yang dialami Kholida Umama perempuan asal Jalan KH Wahid Hasyim Gg II No 23 RT 02 RW 08 Kelurahan Tompokersan Lumajang ini. Anak pertama pasangan Paidi dan Tohami ini memulai usaha sejak semester 5 ketika masih duduk di bangku kuliah di D III.
Bagaimana dia memulai usahanya? Ternyata penuh perjuangan. "Berawal dari dosen pembibing tugas akhir yang menawari buat bisnis jilbab di kampus," jelasnya. Pertama kali dia mengaku tidak punya modal sama sekali. Sistem usahanya, dia mengambil barang berupa jilbab dari dosen, lalu dijadikan sampel jilbab yang lagi tready.
Dia juga berusaha memberanikan diri menjadi modelnya. "Meskipun gak secantik-cantik amat, tapi dengan model DP aja alhamdulillah penghasilannya lumayan. Bisa buat nambah uang jajan dikampus," ujar perempuan berkerudung ini.
Bahkan, diawal merintis usahanya itu, kalau bicara omset, tidaklah buruk. Rata-rata dengan hanya mengambil Rp 5 ribu per jilbab penghasilan bersihnya bisa sampai Rp 500 ribu perbulan.
Itu semasa kuliah. Namun, setelah lulus ceritanya bedalagi. Lulus kuliah, dia memilih oulang kampung ke Lumajang. Awalnya masih tetap mengambil barangpada dosennya itu. " Tapi seiring berjalannya waktu, terjadi miss komunikasi. lalu saya memutuskan untuk mengambil barang di sana. Saya memilih mulai berusaha mencari pinjaman modal sendiri di bank," katanya.
Diapun mulai merintis usaha seniri. Dia harus melewati susahnya untuk mendapat pinjaman odal awal dari bank. "Takut, bingung dan campur aduk sudah. Tapi yang survey dari bank baik banget. Ke rumah ngasih penjelasan begini-begini. Dan akhirnya aku dapat pinjaman modal sejuta doang sih, tapi rasa tanggung jawabnya itu besar sekali. Apalagi atas namaku sendiri,"jelasnya.
Dari semangat pinjaman satu juta itulah, dia merasa punya tuntutan. Tuntutan membayar angsuran modal, tuntutan menyukseskan usaha, dan tuntutan untuk menghabiskan produk. Semua kesulitan itu dia lalui dengan penuh pengorbanan. Bukan cuma pikiran, tenaga dan perasaan juga sering kedapatan beban.
Akhirnya, dengan jerih payahnya itu mulai bermunculan. Teman ibunya, yang punya barang juga sering nitip. Seperti baju, celana, tas, dompet, sampai barang anak-anak dan barang pecah belah. Begitu juga dengan tetangganya. "Kadang ada yang bilang kalo aku anaknya ngeluyuran, jarang di rumah karena ngurus usaha," jelasnya.
Usahanya itu ternyata tidak membuat profesinya sebagai bidan terbengkalai. Memang ada yang mencibir. "Bidan kok ndak malu etang-eteng barang kesana-kemari untuk jualan. Ya aku jawab dengan senyu aja, alhamdulillah saya senang. Ngapain saya malu, oramg tua saya juga memiliki latar belakang berjualan, bapak saya jualan bakso," jawabnya.
Dari usaha itu, semakin lama semakin berkembang. Dia juga mulai menyentuh usaha dalam penjualan pulsa. Bahkan, dia juga bisa membuat lapangan pekerjaan baru buat orang lain sebagaiman cita-citanya semasa awal memulai usaha.
Dari awal dulu jualan jilbab, dia sering menawari saudara. memamng ada yang mau jualan seperti dirinya, dan ada juga yang tidak. Namun, ternyata ada yang mau jualan sampai sekarang. Diapun membimbing dan mengarahkan. "Ya buat nambah uang belanja mereka. Mereka ada yang dari saudara saya juga. Sekarang sudah punya langganan sendiri dan juga bisa kulak sendiri," jelasnya.
Untuk penjualan pulsa, dia mampu merangkul saudara-saudaranya. "Meskipun labanya tidak sebesar yang diharapkan, tetapi lumayan. Sampai salah satu teman mereka juag ikutan nyaldo juag," katanya.
Mereka bisa menabung buat tamnbahan biaya sekolah anaknya. Meskipun tidak seberapa, tapi kalu rutinkan dan ditabung, pasti banyak juga. Dia juga sering berpesan tidak ada usaha baru yang langsung sukses dengan untung besar. Semua harus diawali dengan kerja keras dan perlahan.(fid/ras)
Sumber : Jawa Pos - Radar Semeru, 14 November 2016
Ditulis kembali oleh : nbl
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar